Tampilkan posting dengan label Cerita Perjalanan. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label Cerita Perjalanan. Tampilkan semua posting

Cincin Bukan Jaminan Kesetiaan

Pak Didi seorang Marinir yang bertugas di Medan mengisahkan kisah mengharukan ini. Peristiwa yang tidak dapat dilupakannya. Dia bersama isterinya  kost di rumah seorang warga Tapanuli di Sunggal-Medan, pak Maruli namanya(nama samaran). Pak Maruli ini mempunyai seorang anak gadis yang cantik jelita, "Riani" dia menjadi primadona di dilingkungan perumahan tsb. Rambutnya seperti mayang terurai, penampilan pisiknya sangat ideal membuat banyak laki-laki berusaha mendekatinya. Dengan gaya masing-masing sang pemuda berusaha merebut hati gadis ini. Ada yang memakai mobil dengan model terbaru, pakaian dengan model Pierre Gardyn, memakai wangi-wangian yang aromanya aduhai....! Siapa sih orangtua yang tidak bangga memiliki putri cantik?

Diantara laki-laki tsb,ada seorang yang berpenampilan smart, elegant, ganteng dan meyakinkan. Namanya Warso(nama samaran) pria lain suku.

Dengan setia Warso selalu wakuncar setiap malam minggu kerumah Riani, sikapnya yang selalu melindunginya membuat Riani semakin mencintai laki-laki ini. Orangtuanya juga yakin bahwa pria ini sangat bijak menjaga putrinya. Hubungan mereka sudah berlangsung enam bulan. Riani yakin inilah pasangannya yang cocok baginya. Jadi kemanapun mereka pergi berdua, orangtuanya percaya saja. Suatu saat didaerah Brastagi yang sejuk, Warso membisikkan ketelinga Riani: "Aku  mencintaimu,dan ingin menikahimu segera"

Dia mengecup kening Riani sebagai tanda kasihnya. Hati Rianipun berbunga-bunga mendengar pernyataan Warso. Dia sungguh berbahagia malam itu. "Apa buktinya abang mencintaiku" tanya Riani. Dia ingin bukti keseriusannya. Tanpa diduga, Warso mengeluarkan dari dalam sakunya sebuah cincin dan menaruhnya kejari manis Riani. Kemudian dengan mesra mereka berpelukan. Warso membaringkan tubuh Riani ketempat tidur. Karena dikuasai nafsu yang tak terkendali,mereka berduapun tenggelam melakukan seperti suami-isteri.

Kemudian mereka kembali ke Medan,Warso mengantar Riani kerumahnya. Diteras rumah, orangtua Riani sedang membaca koran dengan santainya. Warso menyapa orangtua Riani dengan sopan:" Apa kabar pak?" Kami sudah pulang dari Brastagi, "Ini pak kami bawa oleh-oleh duren Brastagi" kata Warso sambil menyodorkan duren tsb. Merekapun mencicipi oleh-oleh yang dibawa Warso . "Uenaaak sekaaaliii" sahut pak Maruli menirukan logat Jawa.

Setelah puas makan duren,Warso pamit pulang. Dia diantar Riani hingga gerbang pagar. Sambil melambaikan tangan.."daaagh" kata mereka berdua. Riani tersenyum bahagia hari itu. "Dia pasti menjadi suamiku" katanya dalam hati.

Malam Minggu berikutnya, Riani berdandan, dia memakai gaun yang indah malam itu, siap-siap menyambut calon suami. Cantik tenan dia malam itu. Biasanya Warso datang paling lambat jam 19.00 wib. Rianipun berkali-kali melihat jam tangannya,tetapi sang kekasih belum datang juga.

Dia tunggu hingga jam 21.00 wib,belum muncul juga. Dia mulai gusar,lalu dia menelpon Warso kerumahnya. Dia "Sudah tidak disini mbak" kata pembantu, "kontrakannya sudah habis."

"Pindah kemana dia?" tanya Riani dengan suara agak keras.

"Saya nggak Tahu mbak" sahut pembantu.

Seperti disambar petir disiang bolong, diapun lari kekamar sambil merebahkan tubuhnya dan tertelungkup mendekap bantal guling. Dia menangis dengan sedihnya. Dia tidak menceritakan kepada orangtuanya bahwa kegadisannya sudah direnggut Warso.

Riani masih berharap Warso datang mengunjunginya dan mempertanggung jawabkan perbuatannya, tetapi tiga bulan ditunggu-tunggu sang pacar tidak muncul juga. Riani pun putus asa, dan merasa malu melihat orangtuanya dan lingkungannya. Dia merenung-renung peristiwa yang menyakitkan itu. Akhirnya dia mengambil suatu keputusan untuk meninggalkan orangtuanya. Keputusan yang merusak dirinya sendiri. Dia pergi ke suatu tempat di Tanjung Balai, suatu tempat prostitusi. Dia menjadi wanita "P" karena merasa tidak berguna lagi bagi  keluarga, merasa malu dan ternoda dgn perbuatannya sendiri.

Orangtuanya tidak mengetahui dia berada dimana, dan akhirnya pak Maruli minta tolong mencarikan sang putri kepada pak Didi(marinir) yang kost dirumahnya. Pak Didi ini seorang Kristen yang taat. Setiap hari Minggu, dia selalu ikut kebaktian di HKBP Sunggal. Karena sering bergaul dengan orang Batak ,diapun fasih berbahasa batak. Di Medan dia ditugaskan sebagai kepala salah satu pleton Angkatan Laut Republik Indonesia.

Sebagai seorang prajurit, diapun menyelusuri tempat-tempat prostitusi di Sumut dan sekitarnya. Dia mencari informasi ke tempat itu dengan menanyakan para germo atau wts yang ada dilokasi. Dia pura-pura menjadi laki-laki hidung belang. Dengan berbagai tehnik pencarian informasi, akhirnya dia berhasil menemukan Riani di Tanjungbalai. Perlu diketahui bahwa pak Didi tidak mengenal wajah Riani karena peristiwa ini terjadi sebelum pak Didi kost di rumah pak Maruli.

Pak Didi pun booking Riani dan mereka masuk kamar dan berbicara berduaan. Namanya bukan Riani lagi, tetapi sudah berganti dengan Kristin.

"Ayolah om", ajak  Kristin(Riani) ke pak Didi.

"Tenang saja dulu Tin, kita ngobrol-ngobrol saja dulu" sahut pak Didi dengan wajah kalam.

"Soalnya saya nanti ditegor dengan boss saya" kata Kristin.

Pak Didipun mengorek informasi sebanyak-banyaknya dari Kristin, mengapa dia terjun kedunia hitam itu.

"Aku sudah sakit oleh ulah laki-laki yang tidak bertanggung jawab, aku malu terhadap keluarga dan teman-temanku, Aku pasti dibenci kedua orangtuaku. Allah pasti membenci saya." Dia menangis menumpahkan kesedihannya kepada pak Didi.

Pak Didipun membuka Alkitabnya yang selalu dibawanya kemanapun dia pergi. Alkitab tersebut dibungkus pakai koran.

"Kamu Rindu nggak bertemu dengan keluargamu?" Tanya Pak Didi.

"Aku Rindu sekali pak, tetapi maukah mereka menerimaku?" dia balik bertanya.

"Tuhan sendiri selalu terbuka tanganNya menerima orang berdosa dan berpaling ke Jalan yang benar. Ingat Maria Magdalena si Pelacur itu ? Tuhan Yesus mengampuninya bukan ? Tuhan datang ke dunia untuk menyembuhkan orang-orang sakit, agar sembuh. Maukah kamu kembali ? Tuhan dan orangtuamu pasti mau menerimamu. Saya jamin" ujar pak Didi memberi semangat.

"Tapi saya sudah terikat kontrak dengan germo disini" ujarnya. "Nanti saya dituntut ganti rugi" kata Kristin.

"Baiklah kalau begitu,saya akan menghadap germo agar kamu diijinkan keluar. Masalah itu, serahkan kepadaku",ujar sang marinir. Dari pertemuan pertama dengan pak Didi, tidak serta merta Kristin dapat meninggalkan pekerjaannya.

Masih ada sekitar 2 bulan Kristin melakukan pekerjaannya sebagai WTS. Untuk mempercepat prosesnya, maka pak Didi minta kepada Germo dan Kristin agar memberikan waktunya setiap minggu kepada pak Didi, sambil mengatur strategi dan menghubungi gereja yang mau menerima Kristin nanti. Setiap kunjungan pak Didi ke Kristin, dia tetap membayar sebagaimana setoran Kristin ke Germo.

Setelah lobbying kepada gereja,dan keluarga akhirnya tibalah saatnya Kristin keluar dari komplex prostitusi. Pak Didi mengatakan bahwa dia akan mengawini Kristin. Untuk meyakinkan sang germo, pak Didi juga mengajak ayah Kristin bersama-sama membuat pernyataan tanpa sepengetahuan Kristin.

Akhirnya tibalah Kristin dibawa pulang, tetapi bukan ke rumah orangtuanya. Dia dititipkan kesalah sebuah gereja, dan mendapat katekisasi dari Pendeta.

Setelah cukup mendapat katekisasi, pada acara kebaktian hari Minggu berikutnya, Pak Didi mengajak orangtua Riani ikut kebaktian, tetapi diminta duduk dibelakang saja. Orangtua mereka tidak tahu pada saat itu ada acara khusus mengenai anaknya yang hilang. Riani(Kristin) pun sudah dipersiapkan mentalnya untuk mengakui dosa-dosanya dihadapan Jemaat. Lagu Pujian yang berjudul Sai Mulak,sai Mulak dst.. berkumandang.

Dengan tegar dia mengakui dihadapan penatua dan Jemaat. Tibalah acara ucapan selamat kepada Kristin yang sudah pulang dari Parjalangan. Satu per satu jemaat menyalaminya, dan terakhir orangtua Kristin datang.

Kristin langsung mencium kaki kedua orangtuanya(sungkem). Airmata tak terbendung lagi. Orangtua Riani juga juga memeluk pak Didi, dan mengucapkan terima kasih banyak atas kembalinya anak yang hilang ke jalan yang benar. Pak Maruli dan Isteri menangis terharu atas usaha pak Didi. Pendetapun bercerita bahwa semuanya ini adalah berkat usaha pak Didi memohon kepada Tuhan.

Dari kumpulan 100 domba, satu diantaranya hilang. Inilah tugas gereja dan jemaat mencari domba-domba yang hilang dan berkumpul bersama lagi. Pekerjaan ini sudah dilakukan oleh pak Didi dengan baik. Dia hanya jemaat biasa, tetapi terpanggil membawa manusia yang kehilangan arah ke jalan yang dikehendaki Tuhan.

Saat Ini Riani sudah dipersunting oleh laki-laki yang bertanggungjawab dan bekerja disalah satu instansi pemerintah. Pak Didi saat ini adalah Satpam di sebuah gereja,tetapi anak-anaknya menjadi pelayan-pelayan Tuhan semua, ada anaknya menjadi seorang dokter tetapi tetapi aktif melayani.

Gunug Ciremai

Gunung Ciremai
Dua tahun lalu, kereta yang saya tumpangi melintasi kawasan Cirebon dalam perjalanan menuju Malang, dari kaca jendela kereta saya melihatnya menjulang gagah memakukan diri disebelah Barat, lantang dan terang beralaskan sawah padi milik penduduk dan sebagian puncaknya hilang tertutup langit senja kemerahan. Ciremai 3078 mdpl.

Ciremai memang sebetulnya sudah sejak lama ingin saya daki, tapi mengingat cerita yang saya dapat dari berbagai sumber mengenai medannya yang berat (khususnya dari Linggarjati) saya berkali-kali menundanya. Namun tawaran dari seorang kawan membuat saya mencoba memberanikan diri, terutama dengan pertimbangan karena saya sudah berhasil melawan batas 'zona nyaman' saya dengan menuju Salak yang medannya berat. Akhirnya saya bersama dua orang kawan yaitu Mohek dan Arga, dari Kampus Bintaro saya menuju Kampung Rambutan yang jadi lokasi kumpul.

Ciremai memang sebetulnya sudah sejak lama ingin saya daki, tapi mengingat cerita yang saya dapat dari berbagai sumber mengenai medannya yang berat (khususnya dari Linggarjati) saya berkali-kali menundanya. Namun tawaran dari seorang kawan membuat saya mencoba memberanikan diri, terutama dengan pertimbangan karena saya sudah berhasil melawan batas 'zona nyaman' saya dengan menuju Salak yang medannya berat. Akhirnya saya bersama dua orang kawan yaitu Mohek dan Arga, dari Kampus Bintaro saya menuju Kampung Rambutan yang jadi lokasi kumpul.



Kamis, 21 April 2011 @17.30

Gerbang Kampus, disana saya, Mohek, Arga dan Oblok berkumpul untuk lanjut ke Kampung Rambutan, tapi tidak lama kemudian ada Gawon yang rupanya hendak ke Ciremai dan lewat Kampung Rambutan juga, jadinya kami berangkat bareng. Kami menumpang angkot 09 dan turun di pertigaan lampu merah Bintaro Sektor 3, dari situ kami menumpang angkot 08 jurusan Pasar Jumat, malam itu jalanan macet, mungkin walau belum akhir pekan besoknya sudah hari libur. Ah.. atau memang tiap hari Jakarta macet seperti ini. Dari Ps. Jumat perjalanan menuju Kp. Rambutan kami teruskan dengan menumpang Metromini 509.



Kamis, 21 April 2011 @19.30

Kami tiba di Terminal Kampung Rambutan, Oblok sendiri memisahkan dari rombongan karena memang tujuannya sampai terminal untuk meneruskan ke rumah saudaranya di sekitaran Jakarta Timur. Dibagian Terminal Antar Kota sudah menunggu Yudha, Toni, Suci, Lisna dan 6 orang lainnya yang merupakan rombongan dari Ciputat, tapi sebelum berangkat kami menunggu rombongan Ekong, Rommy dan 2 orang kawannya yang terlambat karena ada kendala teknis, jadinya kami berangkat sekitar jam 22.30. Di saat tersebut, Gawon juga sedang menunggu 5 orang kawannya (Moset dkk) yang untungya datang tidak lama menjelang keberangkatan.



Kamis, 21 April 2011 @22.30

Setelah nego dengan supir Bis, akhirnya kami menumpang Bis Setia Negara jurusan Cirebon-Jakarta dengan ongkos Rp 40rb dengan kesepakatan akan mengantarkan kami sampai ke BaseCamp Pendakian Linggarjati. Jadi kami tidak perlu berjalan kaki dari pertigaan sebelum memasuki Desa Linggarjati. Kemudian Bis melaju meninggalkan Jakarta, didalam Bis saya hanya terjaga sebentar lalu tertidur, sementara yang lain tampaknya masih menikmati hiburan film Komedi Bokir dan Benyamin tahun 1970an. Sesekali saya terbangun dan melihat kemacetan Jalur Pantura di malam hari.



Jumat, 22 April 2011 @05.30

Hari masih cerah, saya rasa sudah sampai namun belum juga ternyata. Kami masih didaerah Indramayu, mungkin kemacetan Pantura tadi malam menyebabkan kami lambat tiba. Bis terus melaju, penumpang naik turun bergantian dari satu titik ke titik perhentian sepanjang jalan. Saya menikmati suguhan pemandangan sawah hijau yang terbentang sepanjang jalan, diselingi perumahan penduduk dan komplek perumahan yang mulai dibangun, menunjukkan komersialisasi lahan sudah menjalar kedaerah Kabupaten di Jawa Barat, tidak hanya kota besar semisal Bandung saja.



Jumat, 22 April 2011 @08.00

Bis masuk ke daerah Kuningan, kami istirahat sejenak untuk sarapan pagi, walaupun tadinya hendak sarapan di BaseCamp saja, tapi karena pertimbangan waktu jadinya sarapan Kupat Tahu di warung lokasi pemberhentian istirahat Bis yang kami tumpangi ini. Kemudian bis melaju memasuki kawasan yang menanjak dan semakin lama makin dekat kami ke Cirebon, dan akhirnya sekitar hampir 1 jam kami tiba di Pertigaan Desa Linggarjati dan terus melaju menuju BaseCamp yang rupanya melintasi gedung bersejarah, gedung tempat perjanjian linggarjati ditandatangani. Namun sampai disana ternyata Jalur pendakian via Linggarjati masih ditutup, jadinya kami memutar keluar memilih jalur pendakian Linggasana, dan Bis hanya mengantar kami hingga pertigaan gerbang saja, jadinya dari gerbang desa Linggasana sampai ke Pos I Linggasana kami berjalan kaki.



Jumat, 22 April 2011 @10.00

Kami semua tiba di Pos I Linggasana dan menyerahkan potokopi KTP/Identitas diri untuk SIMAKSI lalu memulai pendakian, kecuali rombongan Ekong dan Rommy yang memiliki meneruskan perjalanan siang nanti karena hendak istirahat dan 1 diantara mereka memilih untuk sholat Jumat dulu. Akhirnya kami 18 orang memulai pendakian, 5 orang rombongan pertama adalah Moset dan Gawon dkk, dan kami dibelakangnya. Dari Pos I ini, pendakian dimulai dengan melintasi perumahan penduduk yang tertata rapi, dengan udara yang sejuk, banyak empang dan peternakan ayam dikiri kanan jalan. Tak lama kemudian barulah memasuki kawasan perkemahan Cigenteng yang berupa Kawasan Hutan Pinus dan Kebun Kopi,hingga kami tiba di Kulu Wuku (CMIW), disini persediaan air masih banyak sehingga bisa mengisi persediaan terlebih dahulu.



Jumat, 22 April 2011 @11.30

Keluar dari kawasan hutan Pinus, medan yang kami hadapi terus menanjak, biasanya memang di 2-3 jam pertama pendakian tubuh saya melakukan penyesuaian ritme baik napas maupun stamina. Barulah kemudian jika sudah pas, maka langkah kaki ini terasa ringan walau rasa pegal pasti selalu meyertai bahu dan kaki. Tidak lama kemudian kami memasuki belukar rerumputan perdu tapi dari situ pemandangan nya sungguh indah, tepi pantai laut Jawa terlihat jelas bahkan deburan riak ombaknya menimbulkan bayang putih yang bergerak ditepiannya. Perjalanan terus berlanjut sampai kami tiba di Pos Pengbadakan yang merupakan pos awal memasuki hutan belukar Ciremai yang didominasi pepohonan tinggi besar. Sekitar hampir 1 jam lebih perjalanan, kami beristirahat di Pos Kondang Amis, yang berdekatan dengan sumber mata air, disini kami istirahat untuk sholat dan mengisi persediaan air yang merupakan air terjun yang berjarak 5 menit dari shelter, tapi untuk sampai ke sumber mata air ini harus hati-hati karena medannya sangat curam dan licin.



Jumat, 22 April 2011 @16.00

Perjalanan makin menanjak, dengan medan tanah licin cukup menyulitkan pendakian, untunglah jalurnya jelas dan ada beberapa jalur yang cukup vertikal dan hanya bisa dilewati dengan bantuan tali dan akar pepohonan, sekitar hampir dua jam lebih tracking akhirnya saya, Arga dan Mohek baru menyadari bahwa kami cukup jauh meninggalkan rombongan Yudha dkk, akhirnya kami sepakat menunggu mereka di Pos Pangalap, disana rupanya hujan turun dan sembari menunggu kami akhir nya mendirikan tenda... Sebetulnya sudah sejak di Pos Kuburan Kuda (pos sebelum Pangalap) kami bertiga memang mendahului rombongan karena kesepakatan sejak awal kami semua akan nge-camp di Sanggabuana I kalau tidak salah, namun berubah menjadi di Buana Lingga mengingat waktu yang tampaknya tidak lagi memungkinkan untuk mencapai BatuLingga sebelum magrib. Atas saran Yudha, saya sebagai salah satu anggota tim yang membawa Tenda diminta duluan supaya tiba lebih awal untuk mendirikan Tenda. Maklum sekarang pendakian lagi ramai. khawatir tidak kebagian lahan.



Jumat, 22 April 2011 @ 17.30

Akhirnya dari Pos Pangalap kami meneruskan perjalanan ke pos berikutnya yaitu Tanjakan Bapa Tere, namanya saja sudah tanjakan jadi medan yang kami hadapi pun mulai makin vertikal sementara hari perlahan mulai gelap. Setiap beberapa saat saya beristirahat untuk sekedar mengatur nafas dan mengistirahatkan pundak yang kelelahan membawa carrier. Gunung Ciremai ini memang unik, karena ada banyak lahan kosong untuk dijadikana lahan nge-camp sehingga kadang membuat sebagian pendaki tertipu (termasuk saya) karena saya kira sudah tiba di pos ternyata belum. Beberapa kali terjadi susul menyusul antar rombongan, diantaranya rombongan saya, Mohek dan Arga dengan rombongan 3 orang dari Bogor serta rombongan Moset. Saat hari makin gelap kami kebingungan antara tetap meneruskan perjalanan menuju BatuLingga atau turun lagi menemui rombongan kawan dibelakang untuk nge-camp bareng. Tapi kelihatannya terlalu jauh untuk turun kembali sehingga melalui teriakan alakadarnya khas para pendaki kami teriakkan bahwa kami mendirikan tenda disebuah lahan cukup luas yang kami temui beberapa meter diatas Tanjakan Bapa Tere (Pos setelah Tanjakan Bin Bin dan Tanjakan Seruni), waktu itu pukul 18.30.



Jumat, 22 April 2011 @20.00

Tenda sudah kami dirikan, carrier dan semua peralatan sudah kami susun di dalam tenda, bersiap untuk istirahat, tapi sebelumnya untuk memberi energi dan hangat tubuh Mohek memasak Indomie dan segelas besar kopi susu, tapi itupun setelah mendapat pinjaman kompor dari Gawon karena kompor yang kami bawa rupanya rusak. Setelah makan dan sholat akhirnya kami beristirahat dan sepakat untuk saling membangunkan pukul 03.00 dini hari untuk meneruskan perjalanan menuju puncak Ciremai. Untunglah malam saat kami beristirahat tidak turun hujan karena sangat mengkhawatirkan tempat kami mendirikan tenda adalah lahan miring yang pasti dilalui air dari atas yang landai. Sebagai pengantar tidur masih sempat kami dengarkan lagu-lagu A7X dari hp Arga.. lalu tidak adalagi apa-apa cuma kami bertiga yang mulai tertidur dan malam yang gelap dan perlahan kian dingin. Sementara tenda dua rombongan yang lain masih terdengar sibuk belum tertidur.



Sabtu, 23 April 2011 @03.00

Alarm dari HP Arga berbunyi, saya terbangun lalu membangunkan mereka berdua, lalu saya tertidur lagi sampai lima menit kemudian baru benar-benar bangun setelah melihat Mohek hendak menyiapkan diri meneruskan perjalanan. hangatnya Sleeping Bag membuat saya betah berlama-lama didalam tenda. Kemudian setelah beberapa menit kami siap menuju puncak, beberapa peralatan yang kami perlukan sudah kami kantongi seperti senter, sepatu, sandal, kaos kami, jaket dll, lalu yang juga penting adalah Madu, Gula Merah dan air minum (ini yang berat, karena Ciremai ini sulit air sehingga konsumsi air harus benar-benar diatur). Keuluar dari tenda kami membangunkan dua tenda tetangga lalu kami mendahului mereka, Arga didepan membawa senter, saya ditengah dan Mohek di belakang. Perjalanan kami teruskan untuk menuju Pos Berikutnya yaitu Sangga Buana I dan II, Pengasinan lalu Puncak.



Sabtu, 23 April 2011 @04.00

Kami tersusul oleh rombongan dari Bogor (Otong, Joko dan Ainur), mereka 3 orang pendaki yang lucu membuat kelelahan pendakian dini hari kami terasa menyenangkan, saya yang sempat mengalami kram dan sedikit mual menjadi makin menikmati perjalanan ke Puncak. Diiringi juga oleh Sarjana Muda-nya Iwan Fals, dan lagu-lagu lainnya membuat suasana makin hidup. Dan tidak terasa kami sudah mencapai Pos Sanggabuana I tapi hanya sejenak saja kami istirahat untuk minum ekstra Joss karena kami langsung meneruskan menuju Sanggabuana II yang berjarak kira-kira 200m dari pos sebelumnya. Sekitar pukul 05.00 pagi kami beristirahat di beberapa shelter dan mulai menyadari bahwa Matahari sudah mulai terbit, artinya sudah tidak mungkin lagi bagi kami untuk meliat sunrise dari puncak sehingga kami memutuskan untuk melihat dari sana saja, dan beberapa saat kemudian pun kami tiba di pos Sangga buana II. Tidak ada yang istimewa lagi selain rasa senang karena Puncak sudah semakin dekat dan sudah melihat sunrise.



Sabtu, 23 April 2011 @05.30

Perlahan akhirnya kami sudah hampir sampai di alun-alun Pengasinan, pos terakhir. Saya akhirnya mendahului Mohek dan Arga karena rasanya rombongan sudah cukup ramai dan hari sudah terang sehingga tidak terlalu khawatir jika sendiri ke atas. Dan akhirnya menjelang pukul 6 pagi saya sampai di Pos Pengasinan, dan tanpa berlama-lama langsung meneruskan perjalanan ke Puncak yang memakan waktu tidak lebih dari 1 jam karena medanya berbatu sehingga banyak pegangan yang membuat lebih aman. Sayangnya saya tidak memiliki persediaan air sehingga minum dari tetes air yang bergantungan di pohon rumput yang akhir nya dilihat oleh pendaki lain yang berbaik hati memberi saya 300mL air kurang lebih. Dan akhirnya dengan langkah-langkah yang sebisanya saya teruskan untuk menapaki jalan menuju puncak, sampai juga saya di Puncak 0 km Ciremai. Diujung lelang ini Alhamdulillah saya dimampukan untuk melihat pemandangan indah, kota Cirebon, tepi pantai, kawah, dan lain sebagainya.



Sabtu, 23 April 2011 @09.00

Rombongan kawan-kawan yang lain sudah tiba juga kurang lebih satu jam setelah saya sampai, dan setelah puas menikmati pemandangan dan membuat kenangan disana, maka saya memutuskan untuk turun terlebih dahulu, pertimbangannya supaya bisa nanti turun bareng dengan rombongan Yudha, Toni, Lisna dan Suci yang nge-camp dibawah sehingga begitu kami selesai packing kami bisa langsung menemui mereka untuk pulang bareng. Tapi rencana berubah sebabnya adalah mereka ingin tinggal satu malam lagi ditempat saudaranya Lisna di Kuningan, sehingga kami pulang lebih dahulu ke Jakarta, dan begitu sampai ditenda langsung bersiap packing, makan dan pulang.



Sabtu, 23 April 2011 @10.30

Saya dan Arga sudah tiba di tenda, turun memang selalu lebih cepat sebab tanjakan yang tadi sulit menjadi lebih ringan apalagi kalau tidak sedang hujan. Namun tidak lama kemudian hujan turun, untunglah sekita jam 11 Mohek sudah tiba dan bergabung bersama kami di Tenda, kami sepakat untuk bersiap-siap packing karena hujan yang makin deras membuat air pelan-pelan merembes kedalam tenda. Apapun yang bisa di masukkan kedalam carrier segera kami masukkan sehingga begitu sudah selesai semua, hanya logistik dan kompor+gas yang kami sisakan karena kami berniat untuk makan siang dulu sebelum turun ke bawah. Keadaan memang bisa merubah seseorang, ada yang menjadi lebih baik atau lebih buruk tentunya, dan yang terjadi pada Mohek adalah yang baik, buktinya ia bisa menjadi koki handal yang menyajikan nasi tim sayur, sarden sayur dan kopi susu yang pas. This is it.. Menu Darurat ala Chef Mohek!



Sabtu, 23 April 2011 @11.30

Hujan sudah tidak terlalu deras, kamipun sudah makan sehingga ditengah rintik hujan kami semua keluar untuk melipat tenda dan memasukkan kedalam carrier saya, makin berat karena tendanya agak basah, dan kami sepakat bergantian membawa carrier saya ini. Setelah pamit dengan dua tenda tetangga akhirnya kami turun kebawah, namun tidak seperti sebelumnya, medannya makin berat karena licin baru saja turun hujan. Sayapun beberapa kali memilih prosotan di medan tanah licin dari pada ambil resiko terjatuh dengan carrier berat di pundak saya. Ketika melewati shelter dibawah Pos Bapa Tere kami sempatkan berpamitan dengan rombongan Yudha yang masih makan siang lalu meneruskan perjalanan. Beberapa kali kami berpapasan dengan pendaki yang baru hendak menuju puncak, seperti halnya rombongan Ekong yang saya jumpai ketika turun dari Puncak.



Sabtu, 23 April 2011 @13.00

Ketika melintasi Pos Pangalap saya bertukar carrier dengan Arga yang sejak awal hanya membawa daypack, dan meneruskan perjalanan sambil tetap berhati-hati memperhatikan jalan yang memberikan alternatif jalur yang kalau tidak diperhatikan dengan seksama bisa membuat tersesat, untungnya banyak pendaki sebelumnya memberi tanda X jika ada jalur yang salah dan memberi tali berwarna yang diikatkan pada dahan pohon bila jalur tersebut benar. Pukul jam 1 siang itu kami sudah sampai di Pangalap dan ini sama seperti waktu yang kami estimasikan sebelumnya bahwa setidak-tidak nya paling cepat pukul 16.30 kami sudah keluar kawasan. Melintasi Pos Kuburan Kuda, Kondang Amis dan kemudian Pangbadakan akhirnya kami keluar kawasan hutan dan memasuki kawasan Pohon Pinus dan Kebun Kopi milik penduduk yang merupakan tanda bahwa kami akan keluar kawasan.



Sabtu, 23 April 2011 @17.00

Kami tiba di Pos I Linggasana, sesekali saya menoleh kebelakang melihat betapa panjangnya perjalanan yang sudah saya dan kawan-kawan tempuh, terutama bila saya lihat ke puncaknya. Di salah satu rumah penduduk, kami beristirahat dengan Indomie, Teh Manis Hangat, Gorengan untuk kemudian segera mandi dan sholat, tak lupa pula segera men-recharge hp untuk memberi kabar kepada orang-orang tercinta kalau saya sudah tiba kembali di peradaban, siap memulai kembali aktivitas sebagai Mahasiswa yang belajar untuk mencari ilmu, bukan angka, bukan pangkat, bukan pula hal lainnya yang menyesakkan jiwa, karena saya tidak mau kehilangan keyakinan setelah memperoleh nikmatnya kesadaran. Sekitar 1 jam kemudian rombonngan Moset (Moset, Gawon, Pasid, Ikhlas dan Ken) tiba juga, dan akhirnya sepakat kami untuk bareng pulang ke Jakarta, setelah mereka mandi, makan dan sholat serta istirahat sejanak.



Sabtu, 23 April 2011 @19.00

Kami berpamitan dengan petugas di Pos I Linggasana, dan turun ke bawah dipertigaan Linggasana lalu terus hingga keluar pertigaan Cilimus. Jauh juga rupanya. Dari situ kami menumpang Bis 3/4 yang biasa disebut masyarakat setempat Bis elep. Ongkosnya 5rb untuk sampai ke Terminal Cirebon, atau 10rb kalau mau langsung ke Stasiun. Tapi kami turun saja di Terminal dan menunggu Bus yang ke Jakarta dan turun di Lebak Bulus, terdekat dengan Kampus STAN Bintaro. Malam itu pukul 20.00 kurang lebih, dan dengan perjalanan kurang lebih setengah jam kami sudah tiba di putaran Terminal Cirebon dan mulai menunggu Bus, sayangnya tidak lama sebelum kami sampai rupanya Bus Luragung baru saja melintas dan terpaksa kami menunggu hampir 1,5 jam kemudian ketika Bus Luragung lainnya melintas dan kami menumpang dengan tiket Rp 35rb sampai ke Terminal Lebak Bulus. Dan perjalanan pulang menuju Jakarta selama 6 jam dimulai.



Minggu, 24 April 2011 @03.00

Kami ber 8 tiba di Terminal Lebak Bulus Jakarta Selatan dan menumpang angkot 08 yang menghantarkan kami sampai ke Kampus STAN, sementara salah seorang dari kami sudah menumpang Bajaj ke Pejompongan terlebih dahulu dari Lb Bulus. Dan menjelang jam 4 pagi kami sampai di Kampus, untuk kembali ke kos masing-masing, beberapa langsung beristirahat di Posko STAPALA (Moset dkk yang merupakan SPA) sementara saya dan Mohek langsung pulang menyisakan tenda yang harus kami cuci :).

Demikian catatan pendakian ini saya buat, terima kasih banyak saya ucapkan untuk kawan-kawan atas partisipasinya, Oblok untuk pinjaman Nesting dan Kompornya, Yudha Cs (sorry ya jadi ninggalin :D), Pendaki asal Tebet yang memberi saya air untuk menuju Puncak, Rombongan Bogor yang membuat tracking malam menjadi seru, Moset dkk untuk kebersamaan yang tidak disengaja, dan semoga kita bisa mengambil pelajaran atas tiap pendakian yang kita jalani.

Menikmati Sunrise Di Gunung Sindoro

Pagi itu cuaca sangat cerah Adzan subuh terdengar sayup-sayup dari Pos 3 Gunung Sindoro, Tim Pendaki Ecek-ecek "sebutan pada waktu mendaki"  memutuskan untuk istirahat sekaligus menikmati terbit dari tempat itu.

Semburat sinar mentari pagi mulai nampak diufuk timur. Semakin lama semakin terang. Persis di tengah-tengah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Sementara diujung kanan, nampak Gunung Sumbing yang gagah. Sungguh pemandangan yang sangat indah dan mampu menghilangkan lelah para pendaki yang sudah menempuh 6 jam perjalanan.

Sembari menikmati pemandangan dan beristirahat, tim mulai berbagi tugas. Ada yang memasak dan ada pula yang memasak untuk persiapan pendakian kepuncak. Namun Tim memberikan kesempatan pada anggota yang mengalami kram pada kaki untuk beristirahat total.

Sekitar 15 menit kemudian, mie instant sudah siap santap. Sarapan pun dimulai Celotehan dan protes pun muncul. Ada yang berkomentar masakanya terlalu pedas, ada yang bilang terlalu manis. Meskipun masakan yang disiapkan tetap ludes.

Matahari semaki tinggi. Dua jam beristirahat dirasa sudah cukup mengembalikan kebugaran. Tim bersiap menuju puncak dan disempatkan berfoto bersama. "Ayo kita foto bersama disini mumpung udaranya cerah. Siapa tahu nanti ada yang tidak sanggup sampai puncak," usaul salah seorang dari teman. Dengan minta tolong pendaki dari jakarta, akhirnya tim bisa berfoto bersama.

Dengan sisa tenaga yang ada pukul 09.00 akhirnya Tim mencapai puncak dan mengucap syukur disini. Kabut pun mulai turun, tim memutuskan untuk turun agar tidak kehujanan di perjalanan. Pukul 18.30 Tim sampai di Yogyakarta

Pendakian yang mengambil rute Kledung ini memang menguras tenaga. Pasalnya tim ecek-ecek tidak sempat berisirahat sebelum mendaki. Berkumpul dan berangkat mendaki pukul 15.30 WIB dari Yogyakarta, rombongan baru sampai Parakan sekitar pukul 20.00. Setelah beristirahat dan packing serta makan malam di Parakan pukul 21.00 tim berangkat menuju base camp Kledung pukul 21.30 melapor dan mengisi buku tamu, kemudian selama 45 menit aklamatisasi pendakian.
Pendakian Gunung sindoro, Temamggung, Jawa Tengah pada sabtu-minggu (22-23 Desember 2012) ini sekaligus untuk meresmikan Hikking Adventure Club Ecek-ecek, sebuah Komunitas Pencinta Alam.

Pendakian Gunung Sindoro (3.136 mdpl) di ikuti 17 Anggota, yang kesemuanya adalah Mahasiswa dari berbagai Jurusan yang ada di Yogyakarta, masing-masing Joko, Andi, Firman, Lukman, Denny, Andi, Setyawan, Jhony, Imron, Santi, Zero, Candra, Donny, Gita, Rany, Virly dan Anisa.

Joko menuturkan, pendiri Komunitas Pencinta Alam ini dimaksudkan untuk menumbuhkan kebersamaan dan kekompakan para Mahasiswa yang suka dan hobi akan olahra Alam. Selain itu juga untuk menjalin persahabatan di lingkungan pencinta alam.
Komunitas ini bukan untuk gagah-gagahan, tetapi menjadi wadah bagi mahasiswa yang gemar berpetualang sekaligus mencintai lingkungan "tutur Joko di puncak Gunung Sindoro.

(Gita Maharani)-k

Gowes Gunung Di Gunung Sempu

Gowes di Gunung SempuNggak ada yang bisa di ceritakan di postingan saya kali ini, karena ini hanya sekedar dokumentasi & juga saya lagi tidak ada ide untuk bercerita...hehee.. ini dokumentasi seadanya sewaktu kita bertiga gowes ke gunung sempu...  

Gowes di Gunung Sempu
                             atlet angkat sepeda...hahahaa.. #lebaaay  
Gowes di Gunung Sempu
 piss untuk indonesia tercinta :)
Gowes di Gunung Sempu
 foto model majalah trubus *udo hendra & lae dhirga #canda
Gowes di Gunung Sempu


Gowes di Gunung SempuGowes di Gunung Sempu
buka tambal ban ya lae,,hehee.. #hendra & dhirga



hendra, ryos & dhirga.. 09 01 2011, gunung sempu, yogyakarta, indonesia.           

Bersepeda Di Kaki Gunung Merapi

Sepeda di Gunung Merapi
Tepat dihari jumat pagi, Pintu kamar terdengar ketukan berkali-kali, ketika kubuka pintu, dengan tergat-kagetnya aku melihat sosok tinggi, putih, badan atletis padat.......Hendra tanyaku, masih pagi ini, masuk..masukk..suruhku.

Aku di bangunkan hendra pagi-pagi sekali(padahal aku tidur baru satu jam loh, terpaksa deh bangun..hehehe.) karena hari ini kami akan bermain sepeda di kaki gunung merapi tepatnya di daerah turgo yang berjarak kurang lebih satu jam dari kota yogyakarta..setelah gosok gigi dan membuat segelas teh hangat sembari menunggu teman-teman yang lain datang aku dan hendra mempersiapkan semua perlengkapan yang akan di bawa untuk bermain sepeda. belum habis menikmati teh hangat yang baru di buat umbel sudah datang untuk menjemput aku dan hendra(maklum kita kan numpang mobilnya umbel), kami pun bergegas karena sinchan dan dhirga sudah menunggu di jalan kaliurang..setelah berbincang-bincang sebentar di pinggir jalan dua mobil yang mengangkut kami dan sepeda segera tancap gas menuju turgo, perbincangan yang hangat mengisi disela-sela perjalanan kami...kurang lebih satu jam tidak terasa sudah sampai di turgo tanpa membuang waktu lagi satu persatu sepeda kami turunkan dan segera merakitnya, setelah mendengar arahan dari dhirga tentang trek yang akan kami lalui, kami mulai menggowes untuk menuju titik start...oiya trek yang kami lalui tidak terlalu panjang loh, kurang lebih satu kilometer tapi cukup ekstrem untuk pemula seperti saya..heheehe.. sesampainya di titik start, eeh ternyata sepeda sinchan mengalami trouble ban depannya bocor terpaksa deh sinchan menunggu kita di atas sendirian(maaf ya chan..hehehe). kami berempat pun meluncur dengan tunggangan kami masing-masing sambil mengamati jalur belum sempat keringat membasahi tubuh tiba-tiba sudah finish(emang pendek nih treknya). tidak menunggu lama kami segera menaikkan sepeda ke mobil untuk menuju titik start lagi dan membawa perlengkapan untuk mengganti ban sepeda sinchan yang bocor.. sambil memperbaiki sepeda sinchan dan menikmati snack dengan diisi senda gurau tak terasa sepeda sinchan sudah siap untuk melahap trek yang akan dilalui, kami pun bergegas kali ini umbel yang dapat jatah gak ikut karena umbel yang jadi driver..tanpa bendera start dan penonton kami pun meluncur bagai atlet downhill kawakan..hehehe... di perjalanan kali ini aku dan sinchan mengalami trouble, begini ceritanya : "belum sampai setengah perjalanan aku yang di posisi paling belakang terlalu asyik sehingga tidak menyadari posisi sinchan yang berada di depan tiba-tiba ngerem mendadak karena ada drop yang cukup curam walhasil kecelakaan kecilpun terjadi. sepedaku menabrak sinchan dari belakang sehingga terjatuh dan mematahkan dudukan kamera sinchan yang di pasang di sepedanya(maaf lagi ya chan..hehee)..bukannya kesakitan karena terjatuh kita berdua malah tertawa karena kekonyolan kita..hahahahaa...perjalanan menyusuri trek kami lanjutkan kembali kali ini sinchan yang di posisi paling belakang..dengan tungganganku aku meluncur bak downhiller profesional(mimpi kalee) finish sudah mulai terlihat lambaian tangan dhirga dan hendra mengisyaratkan agar aku melewati trek yang kiri, kayuhan semakin kutambah agar laju sepeda makin kencang dan menghasilkan lompatan yang mengasyikkan(mimpi lagi). ternyata yang terjadi tidak sesuai dengan yang aku pikirkan lompatan yang aku lakukan tidak sempurna sewaktu landing, terjadilah kecelakaan seasion kedua yang meninggalkan memar di pahaku sampai tulisan ini aku buat..hehehe.."  canda gurau dan evaluasi mengisi disela-sela istirahat kita, sebelum lanjut kepermainan berikutnya...setelah cukup lama bercengkrama kami mulai menaikkan satu persatu sepeda kedalam mobil dan menuju start, kembali kami menikmati trek yang kami lalui, semakin kenjang laju sepeda dengan rintangan di sepanjang trek semakin terpompa pula adrenalinku..alhamdulillah kali ini aku finish tanpa masalah...tapiiiiiiiiiii....ternyata eh ternyata dhirga yang selalu di posisi depan, di seasion ketiga ini mengalami kecelakaan kecil di finish tepat di posisi aku jatuh yang kedua dan dhirga mengalami sedikit lecet di bagian tangan(senasib kita cok..hehehehe). kita sepakat kalau main-mainnya cukup sampai disini dulu bila lain kali ada kesempatan kita akan lanjutkan kembali..sepeda masing-masing mulai kita pereteli dan di packing dalam mobil setelah semua sepeda dan barang telah tersusun di dalam mobil kita menuju warung makan yang tidak jauh dari finish untuk mengisi perut kita yang dari tadi sudah lapar....makan..makan...kenyang...ngerokok...ngobrol....pulang deh... sesampainya di kontrakan hendra yang lain pada pamit pulang duluan untuk bergegas menunaikan sholat jum'at.. sudah mencuci sepeda dan istirahat sejenak mengendorkan otot-ototku yang tegang, aku juga pamit pulang dengan menggowes sepeda sampai ke kostku..sungguh menyenangkan bermain bersama teman-teman yang memang menyenangkan dengan sedikit kekonyolan..hehehe. :) sampai disini dulu ceritaku main-main di turgo bersama teman.. (team : ryos(aku), dhirga, hendra, sinchan dan umbel) 08-10-2010

Sepeda di Gunung Merapi

Bersepeda Di Kaki Gunung Merapi

Bersepeda Di Kaki Gunung Merapi


Bersepeda Di Kaki Gunung Merapi

Pendakian Merapi Janagiri-Lawalata

31-03-09, 12.15 am – 03.00 pm, dari Sekretariat Janagiri – Pos Pendakian Selo

Sekilas cerita dari para pendaki yang kalau dibuang sayang

Ini kisah pendakian 3 diva Lawalata-IPB, Salmul, Hilbul, Churtz, kami menamai diri kami bertiga, namun kami juga mempunyai tambahan personil yaitu satu orang perempuan manajer dan satu orang perempuan yang bertindak official, akhirnya kami menamai sebuah perusahaan impian kami yaitu The Divas Adventure Company. Kami sangat menantikan dapat melakukan pendakian gunung berlima, tetapi tidak pernah tercapai karena kami masih mempunyai kesibukan masing-masing dan waktu yang tidak tepat. Akhirnya kami hanya mendaki bertiga, ya, 3 diva karena kami selalu bertiga dan masuk ke dalam golongan manusia yang selalu befikir liar (melakukan hal-hal liar ke dalam alam liar serta tantangan-tantangan liar lainnya).
—————————————–
Aku akan melakukan penugasan dari kampus untuk Praktek Kerja Lapang Profesi (PKLP) di Taman Nasional Gunung Merapi selama 30 hari terhitung 28 Februari – 28 Maret 2009. Sebelum aku berangkat ke Jogjakarta, kami sempat mendiskusikan untuk melakukan penjelajahan ke satu (awalnya hanya satu tapi…) gunung di Jawa Tengah karena alasan waktu yang tidak bisa digunakan lama-lama untuk jalan-jalan _salmul sedang mengurusi penelitiannya dan hilbul tidak boleh izin lama dari kantornya (dia satu tingkat di atas aku dan Salmul)_, maka Gunung Slamet lah yang terpilih. Slamet terpilih karena merupakan gunung tertinggi di Jawa Tengah, “langsung saja si Embahnya Jawa Tengah kalau cuma satu gunung mah” kata-kata sepakat pun muncul.
Selepas praktek lapang ku selesai, aku menghubungi diva-diva yang sedang berada di Bogor untuk penetapan tanggal pendakian. Selama aku PKLP aku belum pernah mendaki sampai ke puncak G.Merapi, “rasanya gimanagitu kalau anak mapala pergi ke suatu tempat yang ada gunungnya tapi gak dinaikin, apalagi gw satu bulan praktek disana, ah gak cihuyy ni, apa kata emak gw,heheee…” ngedumel dalam hati. Aku mencoba untuk mengajak Salmul dan Hilbul untuk melakukan pendakian ke G.Merapi tetapi mereka tidak mau karena alasan klasik di atas (yang sudah disebutkan sebelumnya). Akhirnya aku akan mendaki G.Merapi dan G.Merbabu sendiri saja setelah dari G.Slamet dan meminta ditemani oleh beberapa orang mapala yang ada di Jogja.
Jogjakarta terletak ditengah-tengah dari lingkarang gunung-gunung berapi yang ada di Jawa Tengah salah satunya yang masih dan paling aktif di dunia yaitu G.Merapi dengan periodisitas letusan 3 – 7 tahun (Walhi Jogja). Gunung tersebut berada dalam kawasan Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM). Pada tahun 1998 G.Merapi masih dengan ketinggian 2968 m dpl namun menurut informasi yang didengar pada tahun 2009 G.Merapi mempunyai ketinggian 2911 m dpl.


30 Maret 2009 pukul 02.00 siang, di ruang tamu rumah Benben (mahasiswa UII tingkat I Jurusan Mesin), memang kaki-kaki kami sudah lelah setelah melakukan pendakian dari G.Slamet tetapi setelah aku iming-imingi dengan “kita akan jadi yang pertama div naik Merapi, masa’ kalian gak ingin sih? Tanggung loh.. cuma satu hari saja kok, kita naiknya ngebut, gak usah pake flying camp, pergi malam, naik pagi turun sore, gimana?, masa’ gw cuma naik sendirian, kita kesini kan untuk naik gunung bareng, ih sumpah nanggung banget deh”, akhirnya Hilbul mulai merayu Salmul karena mereka akan pulang ke Bogor berdua “gimana div lu mau ikutan juga gak? Iya sihnanggung juga tau, kita udah di Jogja loh, nemenin si Izah tuh kasihan sendirian,heheheee….”. Aku “div coba lu hubungi bang Greg dia mau mau gak ikut nganter kita? Masa’ cuma Pace doank, kasihan, apalagi pasiennya kita bertiga gini, bisa-bisa stress dia,heheheheee…”.
Izin sudah aku lakukan via sms kepada staf Balai TNGM yang bertugas menjaga Pos Pendakian Selo, dan sebelumnya juga aku sudah meminta izin kepada staf kantor Balai TNGM kalau aku dan teman-teman akan melakukan pendakian ke G.Merapi.
31 Maret 2009 pukul 08.00 malam, kami bergegas dari Jakal (Jalan Kaliurang Km. 11,9) menuju Sekretariat Mapalista tempat kediaman abangnya Hilbul, Bang Gragas (kami memanggilnya Bang Greg), waktu memasuki gerbang kampus Bang Greg ternyata sudah nangkring Katana mungil berwana Silver dengan plat G. Bibir ku mengembang menjadi senyuman. Kami ke Mapalista untuk menjemput Bang Greg dan Bawor. Aku duduk disebelah laki-laki yang memakai kaos berwarna putih, dia Sekjen Sekber DIY, Dhangku Putra, dia tidak suka naik gunung.
“ikut ke Merapi yuk?” ajak aku,
“gak ah, gak suka naik gunung belum dapet feelnya” Dhangku,
“emang habis ini mau kemana?” Dhangku,
“aku habis ini mau ke Sekretariat Janagiri, mau jemput temennya Pace” aku,
“ya udah, nanti aku kesana” Dhangku,
“okeh, aku berangkat duluan ya” aku.
Pukul 11.00 malam, kami tiba di Sekretariat janagiri. Salmul tidak ikut masuk, dia tidur di dalam mobil. Selang 10 menit Katana silver itu muncul kembali,
“kamu ikut?” aku,
“iya aku sama Kohyen ikut nganter sampai pos aja” Dhangku.
Genjrang-genjreng anak-anak yang sedang nongkrong di depat sekretariat Janagiri, Universitas Janabadra Jogjakarta, ada yang sibuk bernyanyi dan berbincang, Pace dan temannya yang bernama Kutilang sibuk mencari dan mengepak barang-barang yang menjadi keperluan kami selama dilapang _walaupun kami tidak akan flying camp kami tetap membawa peralatan lapang sesuai dengan SOPnya atau Standard Operating Procedur_, aku dan Hilbul sibuk berkaca, menonton TV baru kemudian kami gabung ke depan sekret bernyanyi dan berbincang. Waktu tidak satu detik pun berhenti, waktu menunjukkan bahwa sudah pukul 12.15 malam, maka kami pun bergegas memasukkan barang-barang ke dalam mobil. Mobil yang kami pakai jadi bertambah, di Xenia diisi oleh Pace, Kutilang, Bang Greg, Hilbul, dan Salmul, sedangkan hanya aku dan guling (milik Pace yang selalu aku bawa selama aku di Jogja) yang disuruh pindah ke Katana Silver tersebut untuk gabung bersama Dhangku dan Kohyen.



 02.45 malam kami tiba di Pos Pendakian G.Merapi yaitu di daerah Selo, Kabupaten Boyolali, Propinsi Jawa Tengah. Angin kencang dan suhu lumayan dingin membuat rambut di permukaan kulit kami berdiri. Kami merapikan packing-an, kemudian berdoa agar diberikan keselamatan selama melakukan pendakian dan kembali selamat dengan jumlah anggota naik-turun sama,amin.., itulah doa yang aku tuturkan sebelum kami melakukan pendakian. Tiba-tiba Dhangku berlari ke mobilnya dan mengambil satu plastik kecil,
“ini untuk kamu” Dhangku,
“apa ini? Wow susu, milo, sari roti sobekan rasa stawberi” aku,
“hati-hati ya” Dhangku,
“iya, makasih ya daahh…” aku.

Pukul 03.15 malam menjelang subuh kami mulai berjalan dengan beberapa senter. Kutilang mempunyai mata dan ketepatan kaki yang bagus untuk perjalanan malam, dia tidak menggunakan senter. Bang Greg menjadi pahlawan kami hari itu, dia yang membawa semangka berukuran agak besar dari lingkaran bola pada sepak bola, “wah Bang Greg lu TOP BGT dah!! You are our hero,hehehheee…”, “iya kalo sambil bawa semangka,hahahhaaa…”. Seperti biasa, kami selalu berceloteh dimana pun dan kapan pun dan dalam waktu apa pun disetiap melakukan penjelajahan, kalau kami diam itu tandanya kami lagi sakit atau marah atau malah kemasukan setan diam J, malah bukan 3 diva namanya kalau naik gunung tidak ngoceh (=berbicara terus-menerus). “Bintang jatuh!!” teriakku _mitosnya: kalau melihat bintang jatuh, permintaan akan jadi kenyataan_ “betul gak ya? Coba aja deh, semoga bisa bareng sama Dhangku” make a wish. Kanan-kiri kami masih belum teraba vegetasi apa yang tumbuh pada ketinggian sekitar 500 – 700 m dpl, yang pasti jalan tersebut selalu menanjak dan terlihat akar-akar pohon.

Shalat subuh kami lakukan pada pukul 05.20 pagi ketika sinar matahari sudah mulai menyinari kami, kami baru tersadar kalau ternyata sudah pagi, hal tersebut karena kami kebanyakan bercerita, bercanda, dan bergurau. Setelah shalat beberapa dari kami ada yang melakukan ritual di pagi hari yaitu membuat titik koordinat alias gali tanah untuk puph alias buang air besar dan kecil. Tak lupa untuk berpose pada setiap perhentian kami, hal tersebut membutuhkan waktu 45 menit pad perhentian pertama.




Perjalanan dilanjutkan, Bang Greg mulai mengeluarkan kacamata andalannya, Pace seorang pendiam yang hanya diam melihat kami kemudian tertawa (gila donk,hehehe..peace Pace J), Kutilang mulai berceloteh bersama Salmul, Hilbul sibuk mengurusi nafasnya yang sudah mulai agak berhenti dikerongkongan, dan aku siap-siap memencet tombol jepret kalau-kalau ada muka-muka yang menarik untuk di foto atau pemandangan lain yang menarik yang dapat di foto. Vegetasi yang tumbuh di ketinggian 700 - 800 m dpl masih belum cukup beragam salah satunya yaitu pohon Kaliandra (Caliandra sp.), tetapi pada ketinggian 800 – sekitar 1.500 m dpl tumbuhan sudah mulai beragam, sudah mulai terlihat jenis vegetasi yang hidup pada habitat pegunungan bawah sampai pegunungan tengah yaitu jenis Cantigi dan jenis vegetasi dengan daun berwarna hijau beukuran kecil seperti uang logam Indonesia berhias bunga dengan warna-warna cerah seperti kuning dan orange.






 Sampailah aku dan Kutilang di pelataran pasir yang cukup luas, yang cocok untuk istirahat dan tidur-tiduran, dan tentunya berfoto-foto J, pukul 07.26 pagi. Ada seorang pria memakai baju hitam, bagian muka sampai dada ditutupi kain pantai tergeletak di atas matras berwarna merah, itulah Pace seorang pendiam yang juga diam-diam jalannya sangat cepat, maklum saja dia bersuku di tanah Papua, Kabupaten Fak-fak, dan sudah sering melakukan perjalanan yang lebih dhasyat dari kami. Kemudian disusul kedatangan Salmul, Hilbul dan Bang Greg secara berbarengan. Kami melakukan istirahat kedua, makan roti, ambil nafas, dan ganti kostum untuk sesi foto-foto. Tinggi tumbuhan sudah mulai berkurang karena menurut teorinya yaitu semakin tinggi suatu tempat semakin pendek ketinggian suatu tumbuhan dengan banyak cabang. Begitulah karakteristik jenis tumbuhan Cantigi yang hidup pada ketinggian lebih dari 1.500 m dpl, berdaun hijau, kecil, dengan daun muda berwarna merah dan buah berwarna biru tua menuju keunguan. Perjalanan menuju pelataran pasir tersebut sungguh dramatis, kami dapat melihat di belakang kami lekukan G.Merbabu dengan sangat jelas dan terlihat dekat. Samping kanan kami dapat melihat G.Sindoro dan G.Sumbing. Tanjakan demi tanjakan sangat terlihat jelas, karena hanya ada satu jalur/trek/jalan untuk menuju ke puncak G.Merapi dengan pemandangan kanan dan kiri adalah jurang.







 Pukul 08.15 pagi, perjalanan dilanjutkan kembali menuju shelter yang dinamai dengan Pasar Bubrah, lembahan dari Pegunungan Merapi dengan hamparan pasir bercampur bebatuan berukuran kecil sampai besar, vegetasi yang tumbuh didaerah tersebut hanya beberapa tumbuhan bawah seperti ilalang dan beberapa perdu Cantigi. Trek menuju Pasar Bubrah sama terjalnya dengan trek dari ketinggian 800 m dpl sampai pelataran pasir, namun masih tetap ada perbedaan yaitu kondisi trek yaitu lebih berpasir dengan vegetasi perdu Cantigi.




Pukul 09.07 pagi kami hampir tiba di Pasar Bubrah tetapi kami sempat berhenti untuk melihat makam yang berjajar di atas punggungan, dan tentu saja kami tidak melewatkan pose kami untuk berfoto-foto J. Pukul 09.15 pagi kami benar-benar tiba di Pasar Bubrah, yang pertama kami lakukan adalah menaruh tas di pojokan bau besar, bongkar packing-an, mengeluarkan peralatan masak dan bahan yang akan di masak, kemudian berfoto-foto. Kaum perempuan sibuk berpose dan kaum laki-laki sibuk memasak makanan untuk makan siang. Kami tidak diperkenankan masak karena “duh kalian ini gak ada yang beres kalo masak, sini kami saja yang buatkan makanan, sana kalian naik ke puncak saja” kata kaum laki-laki. Alhasil kami hanya menonton mereka, berpose, dan kami pun sempat tertidur.










Pukul 11.45 siang kami mulai melakukan pendakian menuju puncak, dengan posisi semua daypack sudah selesai di packing dan disejajarkan. Tentu saja dengan perut kami yang sudah kenyang setelah melahap semua makanan yang sudah disajikan dengan pencuci mulut buah semangka bawaan si abang J. Kami berjalan sendiri-sendiri, Pace paling depan sebagai penunjuk jalan, kemudian disusul Kutilang dibelakangnya, kemudian Salmul, aku, Hilbul dan Bang Greg selalu berdua. Salah sekali Pace kami taruh paling depan, hilang sudah dia dari jangkauan daya lihat mata kami. Perjalanannya sangat terjal, tidak ada trek normal, semua harus dilewati dengan memanjat dan merangkak-rangkak. “oh Tuhan, apa yang terjadi? Bukankah selama ini orang-orang yang mendaki menuju puncak G.Merapi tidak mengatakan sampai harus memanjat bebatuan yang besar-besar dan tajam? Mengapa jalan kami selalu harus memanjat?” dalam hati kami bertanya-tanya.



Berkali-kali kami memanggil-manggil Pace dan Kutilang tetapi tidak ada jawaban. Kami bertiga hanya dapat menatap satu sama lain. Akhirnya kami dapat mengejar ketertinggalan kami dengan Kutilang, tetapi dengan Pace kami tidak dengar suara apapun darinya. Kami pun mulai berhenti bercanda dan berceloteh. Pukul 12.18 siang kami masih belum sampai ke Puncak Garuda.
“mana puncaknya? Apa kita nyasar ya?, ah masa’ sih?, terus Pace dimana?” tanya kami ke Kutilang,
“aku gak tau, aku juga lupa jalannya” Kutilang,
“Pace!!”, “Pace!!”, “Pace dimana sih?” teriak kami,
“udah div disini aja deh puncaknya, gak ada yang tau ini kalo ini puncaknya” rayu Salmul ke aku,
“kagak div! Apa-apaan sih lu! Bentar lagi kok” aku,
“ya udah fotoin gw disini dulu aja div” pinta Salmul,
“ya udah div, kita sambil tunggu Hilbul aja” aku.
Pukul 12.59 siang cuaca berubah sangat cepat bentar panas, bentar kabut, bentar lagi kembali menjadi panas, kemudian menjadi mendung, awan mengandung air menjadikan ia menjadi warna kelabu, titik-titik air hujan mulai turun membasahi bebatuan, kabut mulai turun perlahan, udara menjadi lebih dingin. Kami pun meneduh dibelakang batu setinggi kami duduk. Tidak ada lagi vegetasi yang hidup atas di ketinggian 2.900 m dpl.
Puncak Garuda, itulah yang kami lihat pada pukul 13.05 siang. Alhamdulillah puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan yang menciptakan alam semesta beserta segala isinya yang selalu membuat takjub umat manusia. Tak salah dia dinamakan Puncak Garuda, bentuknya sangat bagus untuk sebuah batu yang menempel dengan batu lainnya, seperti sebuah mahkota jika dilihat dari sisi samping.



Sosok hitam dengan kain pantai menyelimuti bagian lehernya, itulah Pace yang sudah sampai jauh lebih dulu sebelum kami, dengan nyegir kuda dia menyambut kedatangan kami (kalian tahu nyegir kuda? Silahkan dibayangkan J,heheheee…). bang Greg langsung ambil tempat untuk istirahat dan kami pun ‘tadaaa!!!!’ ‘action!!!’ menyiapkan segala peralatan foto dan memikirkan untuk bergaya.



“aku akan melakukan gerakan salto di setiap puncak yang aku datangi dan tak lupa sujud syukur ku pada Mu” keinginan dalam hatiku. Jeprat…jepret…cling.. kamera digital mulai diaktifkan kembali dengan gaya-gaya foto andalan kami masing-masing, style is number one. Pose demi pose kami lakukan, dari mulai cuaca serah sampai tertutup kabut, tidak menyurutkan semangat kami untuk berfoto ria. Lelah dan tangis terbayarkan setelah tujuan tercapai.


Pukul 13.35 siang kami pun akhirnya keabisan gaya dan batre kamera sudah hampir habis serta memori kamera pun sudah tidak cukup lagi untuk merekam kemenangan kami di Sang Puncak Garuda.








Pukul 13.35 siang kami pun akhirnya keabisan gaya dan batre kamera sudah hampir habis serta memori kamera pun sudah tidak cukup lagi untuk merekam kemenangan kami di Sang Puncak Garuda.


 Terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu kegiatan ini. Cheers up!!
Posting Lama ►
 

Copyright 2013 Catatan cerita: Cerita PerjalananTemplate by Bamz Templates|suport by Wibialwis Blog |Support Googel