Selamat Tinggal Teman





 "I Wanna heal I wanna feel
what I thought was never real
I wanna let go of the paint i've felt so long
Erase all the paint till it's gone
I wanna heal I wanna feel
like i'm close something real
I wanna find something
i've wanted all long
somewhere I belong.." 

Kubenamkan kepalaku dalam-dalam ke kasur, ku tutupi kupingku dengan bantal. Suara seraknya mengikuti nyanyian grup musik Linkin Park. Berisik! Ok deh, tiap hari aku harus dengerin lagu ini tapi apakah harus sepagi ini? Pukul 06.00, aku harus cepat bersih-bersih kamar biar bisa cepat pergi dari sini. Jadi kebiasaanku berangkat pagi pulang malam, bukan apa-apa tapi gara-gara musik itu aku jadi gak betah lama-lama dikos-an. Pernah seharian di kos-an karena gak enak badan, cuma saat dia pergi saja, musik itu pun berhenti. Bahkan, dia akan memutar lagu itu lebih keras jika ada musik lain yang disetel, mungkin dia gak mau disaingi.

Namanya Dimas Ayu Andra, kuliah di jurusan Teknik Sipil, satu angkatan denganku tapi beda fakultas. Dia satu minggu lebih dulu tinggal di kos-an ini dariku. Anak kos-an lebih senang memangilnya Mas, bukan tanpa alasan, salain lebih mudah mengucap Mas daripada dimas, penampilanya juga mendukung. Rambut cepak kaya tentara, pakean kesukaanya jeans hitam yang sobek-sobek dibagian lututnya dipandu kaos berlengan pendek. Wajahnya seringkali tanpa polesan apapun, alami, namun justru wajahnya yang ganteng tetap tak bisa disembunyikan.
 

"Gimana, udah cakep kan?" tanyanya suatu pagi padaku. aku yang sedang menyapu teras kamar, menghentikan sejenak pekerjaanku dan menoleh ke arahnya. karena masih canggung, maka aku hanya memberikan senyum sebagai balasan pertanyaanya. Namun, karena seringnya dia menyapaku, aku pun menjadi lebih respon dan lama-lama menjadi terbiasa bahkan boleh dibilang akrab.
Setelah tiga bulan mengenalnya giliranku yang menggodanya lebih dulu.
"Mas, namnya siapa, Mas?
Asalnya dari mana, Mas?
Tanyaku meniru iklan di televisi. kalau sudah begitu, dia akan berkaca pinggang lalu berkata,
"Emang gua sukro..."
"Lha itu kepalanya, sukro berduri," ledekku.
"Tapi mau nambah ka...n?" Dia tersenyum
Kami pun tertawa geli bersamaan.
Begitulah Mas, orangnya cuek dan tahan sindiran. Kini aku tak memperdulikan lagi penampilanya, meski untuk beberapa kebiasaannya aku masih kurang senang, seperti memutar lagu Linkin Park keras-keras. atau sewaktu-waktu aku pernah menggomentarinya.
"Kok sering ngemil badanya enggak gemuk sih?"
"Ya... dibarengi olah raga dong," sanggahnya.
"Emang olahragamu apa?"
"Basket, renang, tenis, pokoknya banyak dech."
"Tenis?" Tanyaku heran.
"Kenapa? Gak boleh?"
"Ya...nggak, gak banyak orang yang suka.
"Justru itu, jangan cari yang pasaran."
"Pantes kamu pasang poster itu." Aku menunjuk salah satu poster yang menempel di dinding Dimas.
"Oh, itu? kebetulan dapetnya susah tuh dibanding poster artis, waktu itu ada temen yang ngasih, tepatnya sih nodong karena gua memohon sama dia, dia juga sempet heran kayak kamu, kok mau posternya si Rafael Nadal, tapi gua cuek aja, gua suka backhand satu tangannya. Itu senjata ampuh unggulanya."
"Mau kayak dia?"
"Motivator aja, cowok harus berkarya di bidang apa aja yang dia senangi. Gak melulu kerja di pemerintahan atau perusahaan, dari hobi juga bisa. Kamu juga kalo serius di nulis bisa kayak Veronica Guerin," saranya, karena dia tau kalo aku lagi magang di koran kampus.
"Tahu dari mana?"
"Pernah nonton filmnya"
"Tapi kan sad ending, she was killed by the drugers."
"Tiap orang juga bakal mati, Boy." Nasehatnya sambil menjitak kepalaku.
"Tapi ada orang yang umurnya panjang. Bukan karena dia berumur sampai seratus tahun, tapi dia mati meninggalkan nama besarnya dan orang akan selalu mengenang jasa atau kebaikannya. Itu baru panjang umur."
"How tacful," ledekku.
"Iya dunk, siapa dulu, Dimas Ayu Andra."
"Mana ada mas-mas ayu, jangan-jangan ban..." Tak kuselesaikan kalimatku sambil ku lirikkan mataku kesamping.
"Banci maksud Lo?" Dia diam sejenak lalu, "Gua gak suka sama Lo."
Melihat raut mukanya aku jadi takut salah ucap, apa dia tersinggung dengan gurauanku?
Tapi dia melanjutkan.
"Karena Lo cowok, dan gua suka perempuan, he...he...he..."
Dasar! Aku lempar bantal yang ada disampingku ke mukanya. Ngerjain aja.
"satu kosong."
Aku cukup senang ngobrol dengan Mas, biasanya kan kalau sesama cowok ujung-ujungnya ngegosipin perempuan. Tapi beda dengan Mas, misalnya dia lebih senang tentang pandangan miring masyarakat pada kaum dengan julukan fungky atau mengkritik kebijakan pemda tentang tata kota yang semraut. Dan obrolan itu pun terasa ringan dengan diselingi lontaran-lontaran leluconnya yang membuatku sakit perut menahan tawa. Selain itu juga kebiasanya memutar lagu keras-keras jadi agak berkurang, meski masih diputar tapi dengan volum rendah.
Kini, 'obrolan kamar' yang biasa kami lakukan setelah makan nasi bungkus bareng, hanya bisa kami lakukan pada malam hari setelah masing-masing selesai dari aktivitasnya di siang hari. Aku yang masih magang di koran kampus, harus nyetor berita sebanyak-banyaknya, praktis, di luar jam kuliah aku pun hunting berita. Sedangkan Mas, selain aktiv disenat Universitas, dia juga menjadi volunteer di salah satu rumah singgah. Karena pengalamanya di sana ditambah prestasi dia di fakultas yang cukup menonjol, pernah suatu kali dia kutawari jadi profil di koran tempatku magang. Tapi ia menolak.
"Cukup orang yang sudah tau aja," jawabnya merendah.
"Tapi kan bisa jadi motivasi orang lain, bukan buat sombong-sombongan."
"Thanks, tapi masih banyak yang layak jadi profil ketimbang gua. Kan repot nanti kalo gua terkenal. Ntar kalo ada yang nawarin jadi pejabat partai gimana? Gua jadi gak bebas makan duren pingir jalan lagi dunk, he...he...he..."
"Ge'er, siapa juga yang mau nawarin kamu jadi pejabat. Lagian gak semua pejabat gitu kok."
"Gak semua sih tapi sebagian besar. Mereka mungkin lebih suka duren import yang dijual disupermarket ketimbang beli duren lokal pinggiran jalana. Padahal rasanya lebih u... enak duren kita, apalgi makanya lesehan sambil dibuai angin malam. Ah, sudah! Dari pada cuman ngomongin aja mending kita beli yuk!" Tawarnya sambil menggapmit tanganku.
"Asal traktir ya," rayuku.
***
Jam di mejaku menunjukan pukul 07.30. Dari seberang kamar terdengar sayup-sayup lantunan musik, kali ini volumnya sedang, tapi aku masih bisa menangkap liriknya.
"Kisah hidup anak muda/ Anak muda zaman sekarang/ Diincar banyak godaan/ Sana sini belingsatan/ Tawarkan bermacam kenikmata..n/ Kenikmatan buaian setan..."
Benarkah itu dari kamar mas? Ku buka pintu kamar. Benar, itu dari kamarnya. Mulanya ku kira itu hanya siaran radio, tapi kok tanpa iklan? Iseng, ku ketuk pintu kamarnya Tak lama pintu terbuka.
"Hi Boy, what's up?"
"Pagi Dona," candaku.
"Gak biasanya kamu nyetel lagu itu, dah insaf?" Sambil melewatinya yang masih berdiri di pintu aku mengambil kaset JV (Justin Voice) di atas tape.
"Kok heran?"
"Of Course, something must have a reason."
"Begini ceritanya. Dua hari yang lalu gua ke toko kaset, karena yang mau gua beli gak ada, gua iseng liat-liat yang laen. Pas gua liat di cover belakang kaset ini ada tulisan fungky tapi syar'i, gua penasaran makanya gua beli. Tapi lumayan enak, liriknya bermakna. Mau pinjem?".
"Ngeledek, di kamar ku kan gak ada tape, mau nyetel pake apa?"
"Sorry, lupa. Kalo gitu ntar gua kerasin biar u dapet hibah dari gua, itung-itung cari pahala."
"Tapi jangan kaya orang hajatan ya," pintaku ngeloyor masuk kamar kembali sambil berkali-kali aku bergumam, "Tumben."
 
 
Aku baru saja menaruh buku-buku kuliahku di loker. Ya, aku sudah punya loker karena sudah setahun lebih aku menjadi reporter. Dari arah ruang komputer, kak Didi memanggil-mangil keras, "Boy...Boy...!"
"Ada apa Pred?" sapaku pada pemimpin redaksi.
"Kamu liat Aji?"
"Beluh tuh, Masih difakultas kali, ada apa kak?"
"Ada demontrasi menuntut transparasi APBD di DPRD, Icha udah di sana ngeliput tapi gak ada fotografer."
Karena aku juga bisa menggunakan kamera, aku pun menawarkan diri.
"Kalo pred ngijinin, biar aku yang kesana."
"Kamu yakin mau kesana? Kata Icha disana lagi chaos."
"Sure! Gak pake ragu." Sambil menggacungkan dua telunjuk, aku mencoba meyakinkannya.
"Ok. Aku hubungi Icha dan ngasih tahu kamu yang berangkat. Hati-hati ya Boy."
Dalam hitungan detik, SLR F-60 sudah berpindah tempat ke dalam tas ku. Dengan mengendari sepeda motor, aku segera menuju lokasi. Aku harus cepat. Ah, lampu merah ini terasa lam kalau sedang buru-buru. Sepuluh, sebelas, dua belas, yes! Lampu hijau menyala. Kok pick up di depanku tak segera maju. Aku bunyikan klakson," Tid.., tid..tid..." Mobil itu masih diam. Dari jendela kiri mobil tampak tangan melambai-lambai menyuruh aku maju duluan. Aku melewati mobil yang mogok itu.
"Wah, waktuku terus berkurang nih," gumamku.
 

Tiba-tiba dari sisi kiri jalan aku dikejutkan sepeda motor yang sama-sama melaju cepat, kami nggerem hampir bersamaan, si pengendara motor itu mengumpatku. Lho, kenapa harus marah, dia juga ngebut, pikirku. Untung saja kejadian itu tak berlanjut, aku segera melanjutkan perjalanan. Ah, mudah-mudahan dua kejadian jadi bukan bertanda apa-apa.
 

Lima ratus meter dari lokasi demonstrasi, ku parkir motor, ku siapkan kamera yang tadi ku bawa. Keadaan benar kacau. Entah bagaimana awalnya, entah siapa yang memulai, mungkin Icha tahu. Yang jelas dihadapanku nampak barisan demonstran paling depan mencoba membobol brigade petugas keamanan. Sedangkan barisan demonstran belakang melempar batu atau apa saja ke arah petugas. Sesekali beberapa orang dari demonstran depan berteriak-teriak ke kawan mereka yang di belakang. "Jangan melempar! Jangan melempar!
 

Mungkin mereka tidak setuju tindakan kawan mereka itu. Tapi ternyata keadaan semakin kacau, petugas yang mungkin sudah kesal dengan tingkah demonstran  itu menembakkan gas air mata berkali-kali. Aku mencoba mengambil gambar sedekat mungkin. Teringat ucapan fotografer perang, James Natchway, " If your photo is not good, then you are not so close." Sambil menghindari gas air mata aku terus mengambil gambar, untunglah aku selalu membawa sapu tangan dan hari ini benar-benar aku butuhkan.
Seketika sudut mataku menangkap tiga orang mahasiswa dan satu orang mahasiswi sedang mengerumuni sesuatu di bawah pohon tak jauh dari tempatku berdiri, "Angkat! Ayo angkat cepet!" Perintah salah satu dari mereka.
Apakah ada yang cidera? pikirku.
Dengan penasaran aku mendekati mereka. "Siapa mbak?" Tanyaku sambil mencoba melihat langsung. Alangkah kagetnya saat kutahu siapa yang hendak mereka angkat tersebut. Aku pun berteriak, "Ya Tuhan, Mas, Dimas!"
"Mbak mengenalnya?"
"Ya, dia..dia teman ku, cepat, cepat kak tolong dibawa ke Rumah Sakit!"
"Kayaknya dia kena popor senjata mbak," kata salah satu mahasiswa itu. Aku jadi panik Apalagi saat kulihat badanya mulai melemah, tanganya mencoba menahan darah yang keluar dari pelipis matanya, namun jari-jarinya tak mampu menahan, darah itu terus mengalir membasahi bajunya, begitu pula darah dari luka kepala dari bagian belakang kepalanya. Tapi aku tak melihat setetes air matapun darinya, justru aku yang berkali-kali menghapus air mataku. Bibirnya bergerak-gerak, seperti dia ingin mengatakan sesuatu kepadaku tapi tak ada kata yang keluar dari mulutya.
 

"Ke Rumah Sakit ya Mbak, saya bawa motor, segara menyusul" pintaku.
Para demonstran tinggal sekitar 30an yang masih ada di halaman gedung DPRD, mereka nampak mulai meninggalkan tempat itu, sementara petugas masih berjaga-jaga. Karena aku tak melihat posisi Icha, maka ku hubungi dia lewat ponsel.
"Cha, kamu di mana?"
"Aku lagi di dalam gedung, mo konfirmasi. Lo?"
"Aku di halaman gedung, aku dah dapat beberapa gambar. Oh ya maaf aku gak bisa nemenin kamu, temenku ada yang cidera, dia ikut demo, aku mau ke rumah sakit sekarang."
"Oh, gak pa-pa, hati-hati ya."
"Thanks."
Kerongkonganku tecekat, ah, dari pada di sana aku ke hausan, mending beli minum dulu, itu dia warung!
"Air mineral botol, satu bu."
"Adek dari situ?" Tanyanya menunjuk lokosai demontrasi. Aku mengangguk.
"Ada yang luka?"
Sambil mencari-cari dompet di tas, "Eh, iya."
"Untung kamu gak kenapa-napa, coba kalo luka apalagi sampai mmm... mati, kan yang repot orang tuamu."
 

Seorang bapak yang dari tadi duduk di warung itu sambil menghisap rokoknya ikut berkomentar.
"Iya, belum tentu juga negara jadi berubah karena demo. Udah ngorbanin nyawa tetap gak didengar, ya kan Mbok?" Tanyanya minta dukungan si pemilik warung. Ibu itu hanya mengganguk sambil memberikan uang kembalian uangku. Ya, aku tak heran orang berpandangan seperti bapak itu mungkin jauh lebih banyak dari orang yang mencoba optimis untuk merubah keadaan negara ini semampu mereka. Meski memang benar, resikoknya tak selalu didengar, aku tak mau memperpanjang lagi. Mas aku segera ke sana.
 


Mataku mencari sosok empat orang yang membawa Mas ke rumah sakit. Oh itu mereka! Dengan berlari aku hampiri mereka.
"Gimana kak?"
"Kamu temanya kan? Dia sekarang lagi di tangani dokter di dalam. Kita diminta nunggu. Oh ya, administrasinya."
"Oh, biar saya yang urus, tolong tungguin dulu ya kak." Aku berlalu meninggalkan mereka menuju loket administrasi.
 

Beberapa jam kemudian setelah lama mondar mandir di depan ruangan Mas diperiksa, aku dipersilahkan masuk oleh suster. Dokter hanya mengatakan, "Kamu hanya boleh melihatnya, kondisinya masih kritis."
Lima jam berlalu, aku hanya keluar untuk makan dan shalat saja. Beberapa teman Mas bergantian menengok, dan kini mereka sudah pulang. Ketika aku mulai tertidur di kursi yang kududuki, terdengar suara lirih Mas. "Kek... Kakek..." Untuk memastikan aku pun menghampirinya. Benar, dia memanggil kakeknya. Kok kakek pikirku, ya memamng Mas selalu membanggakan kakeknya dalam setiap sela obrolan kami, tapi dalam kondisi seperti ini biasanya kan seorang anak akan mengumamkan nama ibu atau bapaknya.
 

Aku menunggu, perlahan mata mas terbuka, namun bibir Mas belum bisa berucap apa-apa. Aku segara memanggil suster. Tak lama suster itu datang bersama seorang dokter. Setelah melakukan beberapa pengecekan, dokter itu hanya melepas slang oksigen dari mulut Mas.
"Jangan di ajak ngobrol lama ya," pesanya padaku.
"orang tuanya sudah datang?" Tanyanya lagi. "Belum" jawabku singkat.
Bodohnya, aku teman bukan sih, masa keluarganya Mas saja aku tak tahu bagaimana menghubunginya, Mas juga orangnya tak terlalu terbuka, apalagi soal keluarganya. Sepertinya keluarganya hanya kakeknya saja.
"Boy..." Suara itu membuyarkan lamunanku.
"Ah Mas, kamu sudah sadar."
"Boy, tolong kabari kakekku. Nomornya ada di ponselku, Gp."Ucapnya terbata-bata.
"GP?" Tanyaku.
"Grand Pa."
"Oh... " Untungnya ponsel Mas ada di tasnya, sehingga aman saat kejadian itu.
021-8xxx...Tu...t T...t. Nada tersambung. Suara seorang wanita yang sudah lanjut usia menjawab.
"Ya...di sini kediaman Pak Jaya, ini dengan siapa?" nadanya terkesan formal tapi ramah.
"ini temannya Dimas, bisa bicara dengan Pak Jaya?"
"Oh dari temanya den Dimas, tunggu sebentar saya panggilkan."
Cukup lama aku menunggu, ku harap pulsa Mas masih cukup untuk menelpon.
"Ya, saya Jaya, ini siapa?" Suara bariton disana terdengar berwibawa.
"Saya temanya Mas, eh maksud saya Dimas." Segera kubenarkan bahasa ku, Mas kan panggilan di sini saja.
 

"Ada apa dengan Dimas, kenapa bukan dia yang menelpon, apa dia baik-baik saja?" suara itu menjadi cemas. Aku jadi binggung harus menjawab petanyaan yang mana dulu, ah langsung pada permasalahan saja, pikirku.
 

"Saya diminta Dimas untuk menghubungi kakek, Dimas sekarang sedang di rawat, tapi dia sudah baikan." Percakapan selanjutnya secara singkat aku menceritakan penyebabnya, aku juga beri tahu lokasi rumah sakit lalu pria itu memberi tahu ia akan segera datang. Klik! Ponsel ku tutup.
"Kakek akan segera ke sini," kuberi tahu Mas tanpa ia tanya lebih dahulu karena dari tatapan matanya ia aku tahu ia akan menanyakan itu.
 

"Kalau kakek datang, tolong berikan buku tabungan gua sama dia, ada di lemari pakaian gua di kos-an, tolong ya Boy," pintanya. Aku tak lebih jauh menanyakannya.
Setelah mendapat izin ibu kost, aku memasuki kamar Mas, segera ku cari buku tabungan itu, untungnya tak sulit. Tapi ada dua buku tabungan. Ketika ku lihat nominalnya keduanya, dibuku yang satu nominal tak terlalu besar, tapi dibuku lainya, astaga! Besar sekali, 30 dengan enam nol dibelakangnya. "Gila kau Mas, punya uang sebanyak ini."
 

Aku kembali ke rumah sakit setibanya di sana aku serahkan buku itu. Mas meneliti buku itu sejenak, lalu berkata, "Berikan keduanya ke kakek gua, supaya dia memberikan yang ini, ia menunjukan buku yang nominalnya besar ke bapak.
 

"Kenapa bukan kamu yang langsung memberikanya saat ia tiba nanti?"
"Gua percayakan sama Lo." Itu saja jawabnya.
Dengan perasaan bimbang, aku menerima juga.
"Kalau Lo mau tau alasanya, Lo boleh baca buku gua yang covernya cokelat," ucap Mas seakan tahu kebimbanganku.
 

Mungkin Mas masih lelah, ia tertidur lagi. Aku pun mengalihkan mataku keluar jendela. Di seberang ruangan ini bisa ku lihat aktivitas dari kamar lainnya. Tiba-tiba aku di kejutkan oleh sebuah suara yang ku dengar beberapa waktu yang lalu.
 

"Maaf, saya Jaya bagaimana keadaan Dimas?" Rupanya kakeknya Mas, aku hanya mengulang apa yang ku katakan ditelpon. Pria tua itu lalu mendekati Mas. Entah seperti di beri tahu, saat pria itu memegang tangan Mas,  Mas pun terbangun dan hendak memeluk kakeknya meski dengan posisi tertidur. Mereka berpelukan seakan dua orang yang terpisahkan begitu lama. Namun, tiba-tiba tangan Mas terlepas dan tidak sadarkan diri, entah terharu atau apa aku tak tahu. Aku dan kakek nya Mas sama paniknya. Aku lalu keluar ruangan memangil dokter.
 

Cukup lama mereka diluar, kami tak bisa melihat karena kaca ruangan itu tertutup korden. Dokter lalu keluar, layaknya adegan sinetron, jawaban dokter itu membuat kami lemas. Sementara kakek Mas segera menerobos ke ruangan dan memeluk tubuh tubuh Mas yang tak berdaya, aku cuman mematung dengan air mata yang tak terbendung lagi. Selamat jalan kawan, kamu pahlawan anak jalanan dan pergi menegakkan kebaikan.
 
Ku buka lembaran demi lembaran buku bersampul cokelat itu. Isinya tak seperti diary umumnya, namun punya kata yang banyak makna di situ. Dan aku merasa punya harta lain karena sebuah kepercaayaan seorang sahabat yang menghantarkan ku pada sebuah rahasia yang kini menjadi milikku. Kisah seorang anak yang tak mau di hidupi dari kekayaan hasil korupsi ayahnya.
 

"Gua pernah bilang ke Bapak kalau gua udah dewasa dan tahu mana yang baik dan mana yang benar, dan yang di lakukan Bapak salah. Dia malah tertawa, omongan gua gak digubrisnya, di matanya gua masih his little boy. Mungkinkah gua masih hidup saat bapak udah dewasa? (sadar bahwa apa yang dia lakukan itu salah)." Di lembaran lain menulis, "Kakek tak sekedar orang tua bapak, dia pembimbing gua. Dengan filosofi yang di ajarkannya gua gak tergiur uang kiriman Bapak, uang panas...panas..."
"Dimas...!!!" teriakku, air mata tak terbendung.
 




 
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Komentar sahabat adalah inspirasi saya !!!!

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Copyright 2013 Catatan cerita: Selamat Tinggal TemanTemplate by Bamz Templates|suport by Wibialwis Blog |Support Googel